29 November 2018

Berita Golkar - Untuk menopang masuknya investasi, Aceh harus memiliki cadangan listrik di atas 30 persen, terutama di kawasan-kawasan khusus. Hal itu disampaikan Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh, Firmandez, Rabu, (28/11/2018). Menurutnya, tanpa ketersediaan listrik yang memadai, maka investasi tidak akan masuk, karena ketersediaan listrik merupakan salah satu faktor pendukung investasi.

“Karena itu dalam berbagai kesempatan kita selalu meminta peemrintah pusat melalui kementerian terkait, untuk mengenjot pembangunan pembangkit listrik di Aceh, seperti PLTA Peusangan 1 dan 2, serta proyek pembangkit listrik lainnya,” jelas Politisi Golkar dari daerah pemilihan (dapil) Aceh 2 ini.

Baca juga: Firmandez Rehab 620 Unit Rumah Warga Tak Mampu di Aceh Timur

Firmandez menambahkan, untuk menggaet investasi ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe misalnya, infrastruktur pendukung termasuk ketersediaan energi listrik harus diperhatikan secara serius. Menurutnya, jika dilihat dari potensi dan sumber daya alam Aceh, jika potensi-potensi tersebut bisa dikelola dengan baik dan benar, maka persoalan listrik di Aceh bisa teratasi, energi listrik untuk kebutuhan investasi bisa dicadangkan.

“Idelanya cadangan energi listrik untuk kebutuhan investasi itu di atas 30 persen. Makanya kita mendesak pemerintah untuk mempercepat pembangunan beberapa pembangkit listrik di Aceh. Kebutuhan energi listrik setiap tahun terus meningkat, harus ada pembangunan infrastruktur pembangkit listrik baru,” lanjut Firmandez.

Baca juga: Firmandez Bagikan Bibit Sawit Unggul Untuk Para Petani di Manyak Payed Aceh Tamiang

Firmandez menambahkan, jika persoalan kebutuhan energi listrik tidak diatasi dari sekarang, maka hal itu akan menjadi persoalan di masa yang akan datang, karena seiring pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan industri, kebutuhan energi listrik juga bertambah. “Ini harus dipikirkan dari sekarang,” pungkas Firmandez.

fokus berita : #Firmandez


Kategori Berita Golkar Lainnya