02 Januari 2019

Berita Golkar - Debat kandidat pertama pemilihan presiden 2019, menuai kontroversi. Salah satunya usulan dari Dewan Ikatan Dai Aceh mengenai tes baca Alquran bagi kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Menanggapi hal tersebut Aktivis 98, Khalid Zabidi mengatakan bahwa ada kekuatan karakter kepemimpinan nasional Indonesia harus kuat dilihat dari 2 aspek baik dari aspek relijius atau spiritualitas dan kepemerintahan.

“Kualitas relijius dan spiritualitas personal pemimpin dan kepemimpinan nasional harus baik dan terpuji yang tercermin dalam kehidupan perilakunya sehari-harinya, sejalan dengan keyakinan dan kepercayaanya dan nilai-nilai sila Pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa,” kata politisi muda Partai Golkar ini kepada wartawan, Rabu (2/1/2018).

Baca juga: Khalid Zabidi Nilai Kaum Milenial Harus Punya Agenda Politik Anti Mainstream

Dikatakan Khalid bahwa sebagai negara modern, republik dan negara hukum, semestinya kualitas kepemimpinan nasional diukur dari kualitas pemahaman dan penghayatan terhadap ayat-ayat konstitusi yaitu Pancasila dan UUD 1945. “Konstitusi kita menyatakan Presiden dan Wakil Presiden adalah pemimpin negara dan pemerintahan yang bekerja sesuai ajaran Pancasila dan mengacu kepada UUD 1945,” paparnya.

Selain itu kata Khalid, isu politik identitas cenderung SARA yang membelah harus dihindari kedua Timses dan pasangan kandidat capres dan cawapres dalam agenda kampanye. “Dan mengalihkan kepada isu-isu produktif terkait visi pembangunan yang berpihak pada kepentingan nasional, bangsa dan rakyat,” tukasnya. [aktual]

fokus berita : #Khalid Zabidi


Kategori Berita Golkar Lainnya