04 Januari 2019

Berita Golkar - Tiga bulan setengah lagi waktu pemilihan presiden, suasana makin panas, oposisi terus melakukan gerakan sosialisasi meyakinkan publik memantapkan pilih. Oposisi mengkritisi kebijakàn soal ekonomi dan kesejahteraan. Di pihak oposisi memang sangat enak berkata-kata memberikan kritikan dan menawarkan formulasi baru serta harapan bagi masyarakat.

Dilihat dari gaya oposisi memang kelihatannya cukup efektif karena memang sebagian masyakat kelas menegah atas yang melek politik bisa merasakan kebijakan pertahanan yang menurut mereka tidak tetap dan perlu dikoreksi dengan perlu ada perubahan.

Dilihat dari gerakan dan militansi orang yang peka terhàdap politik dari kelompok menengah dan secara domisili mereka kebanyakan tinggal diperkotaan bukan dipedesaan. Adaya gerakan reuni 212 akhir tahun kemarin, itu juga bisa diartikan salah satu gelombang kesadaran kolektif dari sebagian ummat tentang kondisi saat ini. Awalnya untuk bersilaturahmi, beribadah dan berdoa, gerakan ini sangat masif karena muncul dari kesadaran individu yang merasa sama dalam kontek kebersamaan dan keyakinan menjadi kesadaran kolektif, terlepas adanya dorongan yang besar dari isu sebelumnya soal penistaan àgama.

Panasnya persoalan politik saat ini tidak lepas dari dinamika demokrasi dimana setiap kubu menawarkan narasi politik untuk meraih simpati rakyat dan memenangkan pesta demokrasi.

Di sisi lain petahana begitu gencar di sisa tiga bulan terakhir ini, untuk terus mengkampayekan keberhasilan pemerintahan untuk menyakinkan masyarakat tetap memilih petahana untuk kedua kali dan melanjutkan pembangunan yang telah laksanakan, adu janji baru dan adu janji dari kedua kubu semakin hari semakin seru menjelang pemilihan nanti.

Walaupun banyak kritikan yg dilontarkan publik, bahwa narasi kampanye kedua kubu kurang mendidik dalam pendewasaan demokrasi, dilihat dari jargon-jargon yang keluar kebanyakan bukan subtansi melainkan hal-hal yang sepele yang tidak mendidik terhadap publik.

Kita berharap di sisa waktu kampaye ini kedua kubu bisa menawarkan konsep dan pogram yang lebih menyentuh pada persoalan masyarakat, publik harus diberikan kecerdasan memilih dengan mengunakan rasionalitas setelah melihat pogram yang ditawarkan oleh kedua kubu, walaupun kita menyadarai bahwa masyarakat kita masih banyak yang pilihan politiknya bukan berdasarkan kesadaran politik, tapi sebatas kesadaran emosional tertentu.

Semoga pesta demokrasi nanti bisa mewujudkan pemimpin yang bisa menjawab semua harapan masyarakat untuk indonesia lebih baik dan maju.

Deni Yusup (Dirut Nusantara Riset dan Fungsionaris Partai Golkar)

fokus berita : #Deni Yusup


Kategori Berita Golkar Lainnya