13 Januari 2019

Berita Golkar - Menjelang Pileg dan Pilpres 2019, polarisasi politik di masyarakat Indonesia makin menguat akibat tajamnya perbedaan pilihan politik. Ada kecenderungan pemaksaan pilihan kepada orang lain. Akibat paksaan pilihan itu, jalinan persaudaraan yang selama ini terjadi menjadi rusak. Dan situasi ini makin menjadi-jadi dengan adanya media sosial.

Kondisi ini mendapat perhatian Harry Waluyo Sajati, Caleg DPR RI Partai Golkar Dapil Jambi. Harry mengungkapkan bahwa demokrasi harusnya menyatukan dan memperkuat persaudaraan. Harry menegaskan Pileg dan Pilpres 2019 adalah pemersatu bangsa bukan menceraiberaikan.

Baca juga: Harry Waluyo Sajati Gelar Pendidikan Politik Di Persulukan Naqshabandiyah Jambi

"Apapun pilihan kita, setelah pemilu kita harus menghormati hasilnya. Hasil pemilu menjadi pemersatu bangsa untuk bersama-sama berkarya demi kemajuan Indonesia," kata Harry dalam kegiatan Pendidikan Politik Partai Golkar untuk kalangan Tokoh Masyarakat, Masyarakat Adat dan Perempuan di SKB Muara Bungo, Jambi, Minggu (13/1/2019).

Harry menambahkan pentingnya memelihara semangat musyawarah mufakat. Menurutnya, Pemilu memang menganut sistem “one man one vote”, tetapi cukup hanya untuk menentukan orang menggunakan sistem voting.

Baca juga: Legislator Golkar Ini Bakal Tindak Judi Pasar Malam dan Prostitusi Pijat Tradisional Di Bungo

Terhadap masalah-masalah kebijakan, Harry menekankan pentingnya mengedepankan musyawarah mufakat, agar semua aspirasi anak bangsa dapat terakomodasi dengan baik sehingga kerukunan dan persatuan bangsa tetap terpelihara. Hadir dalam acara tersebut H. Surianto yang membawakan tema “Politik dalam Islam” dan Wanto Suryadi dengan tema “Demokrasi yang Jujur dan Adil”, dengan moderator Hardi. [akurat]

fokus berita : #Harry Waluyo Sajati


Kategori Berita Golkar Lainnya