02 Februari 2019

Berita Golkar - Duta Besar (dubes) Republik Indonesia untuk Ukraina Yuddy Chrisnandi, menjabarkan perbedaan hoaks di Indonesia dan Eropa. Hal itu ia utarakan saat berkunjung ke Kantor Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. Meski sama-sama menjadi perhatian serius, hoaks di Eropa rentan disebarkan anak-anak di bawah umur. Penyebar hoaks paling rawan adalah anak di bawah usia 15-16 tahun.

Perilaku penyebaran hoaks di Eropa, kata Yuddy, ditentukan tingkat pendidikan dan pemahaman yang berbeda. “Di Eropa juga sama permainan medsos sangat berpengaruh. Bahkan perlakuan bully dan berita hoaks banyak terjadi di Eropa,” kata Yuddy. Dengan fakta demikian, Yuddy menjelaskan ada aturan di Eropa yang melarang penggunaan gawai bagi anak-anak dibawah umur.

Baca juga: Bertarung Dengan Waktu, Memoar Yuddy Chrisnandi Saat Jadi Timses Jokowi di Pilpres 2014

Hal tersebut tentu berbeda dengan di Indonesia yang membebaskan anak menggunakan smartphone tanpa adanya batasan usia. Terkait pelaksanaan Pemilu 2019 yang akan digelar April mendatang, Anggota Dewan Pakar Partai Golkar mengharapkan agar para pemimpin nasional menunjukan kebesaran jiwanya dan menerima hasil dari Pemilu tersebut.

“Setelah 17 April nanti akan memunculkan pemenang, sehingga yang diharapkan nantinya adalah jiwa besar dari para pemimpin nasional yang bisa menerima setiap hasil dari Pemilu tersebut. Kita harus bersatu dan saling membangun komitmen siap menang dan siap kalah,” ujar Yuddy. Menurutnya, dengan kebesaran jiwa dari seluruh elemen masyarakat, akan membuat pertikaian dan perseteruan yang selama ini terjadi bisa diredam.

Baca juga: Masyarakat Sunda Ajukan Yuddy Chrisnandi dan Aher Jadi Cawapres Jokowi Atau Prabowo

Ia menambahkan, dipupuknya kebesaran jiwa akan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dari perpecahan. Yuddy Chrisnandi turut mencermati jalannya kontestasi politik selama ini. Indonesia, kata dia, sudah sering menjalankan pemilihan umum, sehingga ketika ada satu golongan yang kalah baik pendukung ataupun orang yang menyalonkan diri bisa menerima.

Dampak Negatif Teknologi
Namun berbeda dengan pemilihan umum sekarang, baik calon maupun pendukung saling berseteru satu sama lain. Hal tersebut tidak lain karena perkembangan teknologi yang kian pesat. Menurut Yudi saat ini masyarakat mulai terpecah dan saling serang setelah menjamurnya media sosial sebagai platform penyebaran informasi yang cepat.

Baca juga: Wisuda S2 Sastra Indonesia di University of Kyiv, Yuddy Chrisnandi Terharu dan Bangga

“Hanya sekarang ada kecenderungan dengan kemajuan teknologi yang dimanfaatkan untuk perspektif yang yang tidak tepat, sehingga membuat persaingan politik di Indonesia sudah tidak sehat,” tuturnya. Yuddy tidak menampik saat ini media sosial membuat perseteruan menjadi gila dan ganas. Orang dengan mudah menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya, dan itu terjadi saat media-media sosial tersebut muncul.

Hal inilah yang patut diperhatikan dan mendapatkan penanganan serius. “Sementara sekarang lebih gila, dengan kemajuan teknologi lalu bermunculan berbagai platform menyebarkan informasi dengan cepat yaitu media sosial. Di medsos sekarang orang dengan mudah dipancing menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya, hal-hal inilah yang menjadi pemicu pertikaian dan perseteruan di masyarakat,” ujarnya. [pikiranrakyat]

fokus berita : #Yuddy Chrisnandi


Kategori Berita Golkar Lainnya