05 Februari 2019

Berita Golkar - Calon anggota DPR RI Dapil Sumut III, Ir Ali Wongso Halomoan Sinaga, berbagi tips menghemat biaya produksi bertanam padi kepada masyarakat Nagori Gunung Mariah, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun, Senin (4/2/2019). Tips ini sudah berhasil dilaksanakan di kalangan petani di Kabupaten Simalungun, Langkat, Binjai, Batubara, Karo dan Dairi.

Ali Wongso Sinaga memaparkan, sebelumnya ia sudah melaksanakan penyuluhan di Batubara. Tanggal 25 Januari kemarin, petani padi di Kabupaten Batubara melaksanakan panen, dan terbukti petani bisa menghemat biaya produksi hingga Rp7 juta per hektar. Dari yang biasanya, petani bisa menghabiskan biaya produksi Rp14 juta per hektar, mulai dari penanaman hingga panen.

Baca juga: Berkat Ali Wongso Sinaga, Warga Dolok Panribuan Bisa Nikmati Air Bersih dan Jalan Cor Beton

Menurut Ali Wongso, dalam bertani paling utama adalah penghematan biaya produksi dan menghasilkan panen yang maksimal. Untuk mencapai target itu, lambat laun petani harus mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida. “Pupuk kimia dan pestisida bisa merusak kultur tanah. Jadi penggunaan pupuk kimia dan pestisida tidak baik digunakan petani,” paparnya.

Lanjut Caleg DPR RI Nomor 5 dari Partai Golkar ini, tips ini  bagaimana petani membuat tani menjadi subur. Sembari melakukan penanaman, petani harus memulai untuk menyuburkan tanahnya secara organik. Bahan utama adalah bonggol pisang. Penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB), batang pisang mengandung tujuh jenis bakteri penyubur tanah.

Baca juga: Akbar Tandjung Ungkap Alasan Kedekatannya Dengan SOKSI Sejak Dulu

Untuk satu rante tanah membutuhkan 2 kg batang pisang. Dicincang halus dan dilarutkan ke dalam air. Agar bakteri hidup, bonggol pisang dicampur dengan 2 liter air cucian beras. lalu, diaduk di dalam ember. Setelah diaduk di dalam ember, kemudian dicampur 2 ons gula aren atau gula merah. Selanjutnya, ember ditutup pakai plastik selama 15 hari. Namun, sekali tiga hari harus dibuka sebentar untuk penguapan.

“Setelah dilakukan permentasi, hasilnya disemprotkan ke tanah tempat bercocok tanam. Tiga hari kemudian baru bisa dilakukan penanaman. Hasil dari permentasi adalah pupuk hayati majemuk,” bebernya. Namun demikian, pupuk kimia tetap diberikan, tapi dikurangi penggunaannya. Dengan menggunakan sistem berikut, beban petani berkurang.

Baca juga: Ali Wongso Sinaga Pastikan SOKSI Dukung Penuh Duet Jokowi-Ma'ruf Amin

Masih kata Ali Wongso, sebagai pengganti pestisida petani bisa mengolah sabuk kelapa. Caranya, sabuk kelapa tampah kulit dimasukkan ke dalam drum. Ukurannya, 80 persen drum disii sabuk kelama dan diisi air hinga penuh. Lalu, ditutup selama 15 hari. Hingga air tersebut menjadi hitam. Setelah itu, airnya disaring dan bisa langsung digunakan. [potretsumut]

fokus berita : #Ali Wongso Sinaga


Kategori Berita Golkar Lainnya