14 Februari 2019

Berita Golkar - Partai Golkar optimistis memenangkan Pemilu 17 April 2019 mendatang. Dengan modal segudang pengalaman, partai berlambang pohon beringin itu pun percaya diri, lantaran telah melalui situasi politik terberat tahun 1999 lalu.

Berbicara di hadapan kader partai Golkar se-Kaltim di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Wakil Ketua Dewan Kehormatan DPP Partai Golkar, Akbar Tanjung, menjelaskan panjang lebar sejarah Partai Golkar, yang ikut dia besarkan sampai sekarang ini.

Baca Juga: Akbar Tandjung Minta Yusuf Mansur Doakan Jokowi Menang Pilpres 2019

"Kita sudah pernah lalui masa-masa sulit itu," kata Akbar, dalam agenda konsolidasi Partai Golkar se-Kaltim, di Gedung Serbaguna Putri Karang Melenu, Tenggarong, Rabu (13/2). Pernyataan politisi senior Golkar itu bukan tanpa dasar. Pada Pemilu 1999, usai Suharto mengundurkan diri setahun sebelumnya sebagai Presiden, Golkar mendapatkan tekanan politik luar biasa saat itu.

"Pada Pemilu 1999, kita mendapatkan tekanan luar biasa sebagai parpol pembela pemerintahan saat itu, pembela Soeharto, pembela pemimpin otoriter," ujar Akbar. Imbasnya, berdampak negatif bagi Partai Golkar, yang harus menghadapi situasi politik luar biasa saat itu. "Sehingga mencuatkan keinginan membubarkan Golkar," ujarnya.

Namun demikian, seluruh kader Golkar saat itu, merapatkan barisan, dan terus melakukan konsolidasi menyeluruh. "Karena kita terus konsolidasi, kita bisa nomor 2 di bawah PDIP. Dan, di tahun 2004, kita jadi pemenang Pemilu di era reformasi. Karena kita jelas, politik untuk kepentingan bangsa dan negara," ungkap Akbar.

Baca Juga: Akbar Tandjung Sasar Suara Muslim Milenial Banten Pilih Jokowi

Akbar juga menyoroti masuknya Muhammad Zainul Majdi atau kerap disapa Tuan Guru Bajang di pengurus DPP Golkar. Kehadiran mantan gubernur NTB itu akan membuat Golkar semakin kokoh menatap masa depan.

Dalam waktu yang tersisa kurang lebih 1,5 bulan mendatang menjelang Pemilu 2019, Akbar kembali mengingatkan kadernya, agar benar-benar memahami untuk menjadi politisi yang bijak. "Untuk apa jadi politisi, kalau tidak paham sejarah politik di Indonesia? Nanti, di Pemilu 2019, ada 16 parpol. Jangan pernah anggap enteng hadirnya parpol baru," pungkas Akbar. [merdeka]

fokus berita : #Akbar Tandjung


Kategori Berita Golkar Lainnya