18 Februari 2019

Berita Golkar - Sore itu, ketika  mampir ke sebuah toko kelontong di Dusun Ranjok, Desa Ranjok, Kecamatan Gunung Sari, untuk membeli air minum. Tampak penjualnya terlihat sibuk melayani anak-anak berusia 11 – 12 tahun, yang sedang membeli sosis bakar.

Sambil menyesap minuman dingin, wartawan koran ini sayup mendengar percakapan antara pembeli dan penjual. Dimana anak-anak memanggil si penjual sosis dengan panggilan Ibu Caleg (calon anggota legislatif). “Ibu Caleg, sosis saya mana? Jangan pakai saos pedas ya,” kata salah satu anak-anak yang membeli sosis.

Baca juga: Ibnu Munzir Tegaskan Struktur Bangunan di NTB Harus Adaptif Potensi Gempa

Ternyata, perempuan muda penjual sosis bakar ini adalah seorang Caleg. Memang, kalau melihat di sekitar rumah tempat tinggalnya, tidak ada atribut yang menandakan dirinya seorang Caleg. Tidak ada baliho, tidak ada spanduk, juga tidak ada stiker di rumah maupun di toko tempat dia berjualan. Justeru di toko tempat dia berjualan tersebut tertempel stiker Caleg lain, dan dari partai lain. Selang beberapa menit kemudian, saat pembeli mulai sepi, wartawan koran ini pun mencoba berbincang dengan Siti.

Apa benar mbaknya nyaleg? Dia pun menjawab benar. “Iya benar,” jawab Siti. Dia adalah Caleg dari Partai Golongan Karya (Golkar) DPRD Kabupaten Lombok Barat, Daerah Pemilihan (Dapil III) Gunung Sari-Batu Layar, dengan nomor urut enam.

Siti pun menceritakan awal dirinya kenapa ingin menjadi wakil rakyat di DPRD Lobar. Nama lengkapnya adalah Siti Sumardianti, A.Md. Perempuan kelahiran 19 Maret 1990, yang kini belum genap berusia 28 tahun ini, aktivitas sehari-harinya memang berjualan, menjaga toko yang ditinggalkan oleh almarhumah ibundanya.

Berjualan sosis bakar, adalah salah satu barang dagangannya. Saat memberikan pelayanan kepada pembeli, tangan Siti terlihat sangat cekatan membakar, membolak balikan sosis, hingga dihidangkan kepada pembeli. Terlihat dia sudah terbiasa sebagai pedagang sosis, karena hal ini sudah lama digeluti.

Soal urusan dirinya menjadi Caleg. Kembali dia menuturkan, awal maju sebagai Caleg, hanya sebagai pelengkap saja untuk melengkapi kuota perempuan 30 persen di Partai Golkar, karena diminta oleh pengurus partai. “Awalnya saya hanya sebagai Caleg pelengkap saja atas tawaran dari salah satu pengurus partai,” tuturnya.

Baca juga: Ini Alasan Sari Yuliati Terjun Ke Politik dan Jadi Caleg Golkar di NTB

Sejak namanya muncul sebagai Caleg di Daftar Calon Tetap (DCT), kalangan keluarganya banyak yang tidak mendukung, karena masih dianggap sebagai Caleg pelengkap saja. Selain itu, masyarakat di sekitar tempat tinggalnya juga memandang remeh, dan menganggap dirinya hanya main-main saja.

Namun seiring berjalannya waktu, setelah resmi menjadi Caleg. Perempuan yang akrab dipanggil Siti oleh warga sekitar ini ternyata diam-diam mulai menjaring suara masyarakat yang ada di daerahnya, terutama di wilayah Gunung Sari. Dia mendengar curhatan para ibu-ibu, dan Siti juga bergaul dengan anak-anak muda, kalangan pemilih milenial.

Setelah terjun ke lapangan, bertemu dan bertutur cerita, dan mendengar harapan masyarakat. Siti mengaku miris dengan kondisi masyarakat yang ada sekitarnya, yang ternyata suara mereka belum terwakili oleh para wakil rakyat yang mereka pilih dahulu.

Atas dasar rasa peduli dan ingin memberikan pelayanan dengan menjadi wakil yang benar-benar mewakili suara rakyat, Siti akhirnya memutuskan untuk serius maju sebagai Caleg. Targetnya harus menang, agar suara masyarakat bisa terwakili di gedung DPRD Lobar. “Atas kepedulian kepada masyarakat, sekarang saya serius untuk maju. Bukan lagi sebagai Caleg pelengkap, tapi saya harus menang,” tegas Siti.

Ia ingin menunjukkan bahwa perempuan jangan di pandang sebelah mata, bahwa perempuan juga bisa menjadi pemimpin. Bahkan mungkin perempuan bisa lebih memahami dan mengerti apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh para ibu-ibu.

Untuk mengenalkan diri kepada masyarakat, Siti melakukan sosialisasi dari pintu ke pintu, mendekati masyarakat dengan hati, dan berusaha mendekati masyarakat sesuai dengan keinginan mereka. Terutama para perempuan yang menjadi sasarannya untuk menempatkan suara.

Dari catatannya, sudah ratusan titik lokasi masyarakat yang sudah di satroni untuk melakukan silaturahim. Bertemu dengan ratusan, bahkan ribuan masyarakat dalam waktu hampir 3 bulan, Siti mengumpulkan harapan dan permintaan dari warga masyarakat yang sudah dia datangi. Sasarannya, para anak muda milenial, para remaja, ibu-ibu muda, dan tentunya warga masyarakat yang ada di beberapa desa di Kecamatan Gunung Sari.

Dari hasil bertemu dengan masyarakat, satu hal yang paling membuat dirinya tertantang dan ingin membuktikan, yakni pandangan masyarakat itu salah terhadap dirinya. Dimana Caleg kalau sudah jadi itu pasti lupa sama masyarakat. Ia ingin membuktikan pandangan ini tidak berlaku untuk dirinya, jika ditakdirkan menjadi wakil rakyat. “Saya ingin sekali buktikan kepada masyarakat, bahwa saya tidak akan seperti yang mereka pandang jika ditakdirkan jadi anggota DPR Lobar, Insha Allah,” ungkapnya. [radarlombok]

fokus berita : #Siti Sumardiant


Kategori Berita Golkar Lainnya