22 Februari 2019

Berita Golkar - Farouk Mappaseling Betta (48) tidak pernah berfikir ingin menjadi politisi ataupun ketua partai. Namun takdir berkata lain. Sejak kecil hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 11 Ujungpandang tahun 1985-1988, putra almarhum Letkol TNI (Purn) Mappaseling Betta dan almarhumah Asniah Mappaseling itu hanya bercita-cita jadi petani.

Alasan itu pula Ketua DPRD Makassar ini mengambil jurusan pertanian di Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI). "Dulu saya hanya ingin punya sawah, ternak dan kebun tani yang luas. Makannya waktu kuliah saya ambil jurusan pertanian di UMI, tahun 1988," ungkap Aru sapaannya kepada Tribun, Jumat (22/2/2019).

Bahkan, Ketua DPRD Makassar dua periode itu mengaku sering melakukan aksi demonstrasi dan penghadangan terhadap massa partai Golkar jika melintas di depan kampusnya waktu itu. "Dulu saya suka demo partai Golkar, massa Golkar lewat saya hadang di depan kampus kalau dari kampanye. Namun disaat orang ramai-ramai tinggalkan Golkar tahun 1998, saya malah gabung di sayap partai Golkar," jelasnya.

Baca Juga: Sherly Farouk Optimis Sumbangkan 1 Kursi DPRD Lagi Bagi Golkar Makassar

Mantan Ketua GEMA MKGR Sulsel itupun menjelaskan perjalanannya hingga menjadi Ketua Partai Golkar Makassar. Menurutnya, sejak kuliah dirinya aktif berorganisasi, baik organisasi kampus, kepemudaan, maupun kemasyarakatan.

"Saya memang suka berorganisasi, aktif di Senat, SAR, dan UKM. Dulu juga ada banyak komunitas sircus saya masuki. Organisasi kepemudaan seperti AMPI dan lain-lain. Saya kemudian sedikit demi sedikit masuk dunia politik, jadi kader partai Golkar," tegas Aru.

Ketua Majelis Mustasyar Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Makassar itu mengaku pernah bertarung di Daerah pemilihan (Dapil) Panakukkang dan Manggala untuk kursi DPRD Makassar, tapi gagal.

"Saya pernah jadi caleg di Dapil Panakukkang-Manggala tahun 2004, tetapi tidak lolos. Waktu itu saya tidak kampanye karena kan sistem nomor urut. Sudah Wakil Bendahara Golkar Makassar waktu itu," ujar Ketua Karang Taruna Sulsel ini.

"Tapi saya bukan langsung wakil bendahara di Golkar, saya ini dari anggota biasa, kader biasa. Seiring waktu, saya terus kerja iklas di partai. Dan pada waktunya sayapun dipercayakan sebagai wakil bendahara, dan jadi sekretaris partai," tambah Aru.

Baca Juga: 50 Caleg Golkar Kota Makassar Siap Raih Kemenangan di Pileg 2019

Suami Sherly Lamuda Farouk itu mengakui bahwa ia butuh waktu belasan tahun untuk duduki jabatan sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Makassar.

"Bukan waktu singkat untuk sampai disitu. Saya dari tahun 2004-2014 sekretaris. Jadi saya punya tiga ketua, Pak Ilham Arief, Pak Ambas Syam, dan Pak Supomo Guntur. Karena kerja iklas saya terus jadi sekretaris tiga ketua. Jadi saya juga pernah jadi wakil ketua di provinsi, tidak gampang jadi ketua. Nanti tahun 2016 baru jadi ketua," kata Aru.

"Setelah Pak Ilham jadi ketua Golkar, saya kemudian diangkat menjadi sekretarisnya dan berbagi tugas dengan Pak Ilham waktu itu. Pak Ilham urus rakyat, saya urusi partai dan organisasi," tambah Aru.

Direktur Yayasan Lembaga Pengembangan Masyarakat Madani itu menambahkan, dia tidak pernah berambisi mendapat jabatan Ketua Golkar dan Ketua DPRD Makassar. Ia yakin setiap organisasi punya generasi.

"Saya mengalir saja, tetapi mengalir belum tentu hanyut. Saya hanya berfikir kerja yang terbaik sehingga hasilnyapun saya dapatkan sekarang. Dari dulu saya tidak berambisi tapi karena kerja saya yang iklas, maka saya dipercaya menjadi Ketua Golkar Makassar dan Ketua DPRD Makassar," jelas Aru.

"Kita harus kerja iklas di politik, saya yakin masih ada orang kerja iklas. Kalau mau jadi pemimpin harus iklas, lalu mengayomi dan paling penting itu butuh keteladanan," jelas Aru.(ziz)

Lahir Dari Tiga Generasi Tokoh Hebat!

Cerdas, muda, dan kaya pengalaman berorganisasi menjadikan Farouk Mappaseling Betta (48) sebagai orang yang selalu dipercaya dalam setiap kegiatan sosial.

Tidak hanya itu, cekatan dan selalu energik terhadap kepentingan masyarakat banyak membuat tiga tokoh kenamaan di Sulawesi Selatan memberikan kepercayaan.

Mereka, mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin (IAS). IAS memberi kepercayaan kepada Aru saat menjadi wali kota. Aru menjadi Sekretaris DPD IK Partai Golkar Makassar waktu itu.

Saat Syahrul Yasin Limpo (SYL) menjabat Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan, SYL memberi amanah kepada Aru sebagai Ketua DPRD Makassar.

Lalu HAM Nurdin Halid sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, Aru diberikan kepercayaan menjadi Ketua DPD II Partai Golkar Makassar. Bahkan kursi Ketua DPRD Makassar tidak goyah meski selalu ada kader dipartainya yang menggoyahnya.

"Saya bisa begini karena saya besar dari orang-orang besar pula , orang-orang punya talenta. Sehingga ilmunya itu kita pakai dan disesuaikan dengan kondisi," katanya. [tribunnews]

fokus berita : #Farouk M. Betta


Kategori Berita Golkar Lainnya