20 Februari 2019

Berita Golkar - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Basoet) mengingatkan bahwa tingginya gelombang penyelundupan narkoba patut dipahami sebagai bukti nyata perang proxy yang menargetkan generasi milenial Indonesia. Bamsoet menegaskan, kondisi tersebut jelas dapat mengganggu masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Selama dua dekade belakangan ini, anak dan remaja Indonesia nyata-nyata menjadi target perang proxy. Modusnya, menggoda dan mencekoki mereka dengan aneka ragam produk narkoba (narkotika dan obat-obatan) terlarang,” ucap Bamsoet, Selasa (19/2/2019).

Baca juga: Bambang Soesatyo Minta Masyarakat Maksimalkan Dana Insentif Desa

Dikatakannya, ruang publik kini terus dibanjiri ragam produk narkoba akibat masih tingginya intensitas penyelundupan. Data resmi yang dipaparkan ke publik oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) patut digarisbawahi oleh semua pihak.

“Maret 2018, KPAI mengungkap data tentang korban kelompok anak. Dari total 87 juta populasi kelompok anak, sebanyak 5,9 juta sudah menjadi pecandu narkoba. Untuk menggugah kepedulian bersama, BNN berulangkali mengingatkan dengan data, setiap harinya 50 orang muda meninggal karena mengonsumsi narkoba,” papar politisi Partai Golkar itu.

Baca juga: Bambang Soesatyo Minta Bawaslu Serius Selidiki Netralitas 15 Camat di Sulsel

Menurutnya, jumlah tersebut akan terus bertambah jika persoalan narkoba hanya diserahkan kepada penegak hukum. Kepedulian keluarga dan komunitas menjadi sangat penting dan strategis, karena kejahatan ini masih sulit dibendung. Generasi milenial menjadi target perang proxy karena ragam produk narkoba itu diselundupkan oleh sindikat internasional, bekerjasama dengan antek-antek mereka di dalam negeri.

“Tahun lalu, BNN mengidentifikasi 83 sindikat internasional yang menyelundupkan dan mengedarkan narkoba di dalam negeri. Tahun sebelumnya tercatat 99 sindikat. Barang haram itu dimasukan diedarkan pada 654 daerah penyebaran narkoba,” tandas mantan Ketua Komisi III DPR RI itu. Bamsoet menyatakan, sebuah strategi baru harus digagas untuk menghentikan atau minimal mereduksi kejahatan ini. 

Baca juga: Bambang Soesatyo Ajak Emak-Emak Ikut Memilih di Pemilu 2019, Ini Alasannya

Penyalahguna dan ragam akibat pemakaian narkoba jangan hanya dilihat sebagai ekses kenakalan anak, remaja maupun dewasa. Data-data yang dipaparkan BNN, Ditjen Bea Cukai dan KPAI patut dimaknai sebagai skenario perang proxy yang ingin merusak dan memperlemah generasi milenial Indonesia. Perang proxy tidak akan terlihat masif seperti sekarang ini jika tidak ada komunitas penjahat lokal yang menjadi mitra semua sindikat internasional itu.

“Memang, seperti itulah strategi melancarkan perang proxy (proxy war). Identitas lawan tak mudah dibaca karena berkamuflase sebagai pelaku tindak kriminal yang membangun kolaborasi dengan komunitas penjahat di negara yang menjadi target serangan,” pungkas legislator dapil Jawa Tengah VII itu. [kontributor Jakarta]

fokus berita : #Bambang Soesatyo


Kategori Berita Golkar Lainnya