04 Maret 2019

Berita Golkar - Dituding duduk sebagai pengurus DPD I Golkar Bali, tapi tidak mau nyaleg ke Pileg 2019, membuat sejumlah kader senior yang direshuffle dari kepengurusan marah besar. Mereka balik tuding Plt Ketua DPD I Golkar Bali, Gede Sumarjaya Linggih alias Demer, asal bunyi alias asbun. Bahkan, AA Ngurah Rai Wiranata ancam akan mobilisasi kader Golkar supaya tidak memilih Demer di Pileg 2019.

Selain AA Ngurah Rai Wiranata, kader senior yang juga dilengserkan dari kepengurusan DPD I Golkar Bali dan balik menuding Demer asbun tersebut, masing-masing Wayan Subawa dan I Gusti Putu Wijaya. AA Ngurah Rai Wiranata menegaskan, dirinya sudah menjadi kader Golkar sejak partai ini berdiri tahun 1971. Pada 1982, Rai Wiranata sudah menjadi Komisisari Desa Partai Golkar. Sedangkan pada 1987, dia sudah menjadi Ketua Komisaris Kecamatan Partai Golkar.

Baca Juga: Para Ketua DPD II Golkar Bali Curhat ke Akbar Tandjung, Demer Murka

Selain itu, Rai Witanata juga ikut menggagas Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Bali, yang merupakan cikal bakal dan Kino Pendiri Partai Golkar bersama Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) dan Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957.

“Dulu di zaman saya sangat gampang mencari qourum untuk rapat organisasi, karena saat itu semuanya solid. Nggak seperti pengurus Golkar yang dipimpin Demer sekarang, kalau rapat nggak pernah bisa qourum. Demer jangan asal bicara, jangan asal bunyi (asbun),” ujar sesepuh Golkar asal Puri Kesiman, Denpasar Timur ini di kediamannya, Minggu (3/3) sore.

Kalau urusan menjadi caleg, Rai Wiranata sudah melakoninya berkali-kali. Makanya, Rai Wiranata sempat menjadi anggota Fraksi Golkar DPRD Badung 1987-1992 dan anggota Fraksi Golkar DPRD Bali 2004-2009. Menurut Rai Wiranata, pengabdiannya di Golkar itu sudah cukup teruji-lah. “Boleh tanya Ida Bagus Gede Udiyana (caleg incumbent DPRD Bali dari Golkar Dapil Denpasar, Red) yang kemarin meminta saya maju ke Pileg 2019. Saya katakan, saya tidak nyalon karena saya mau anak-anak muda yang maju. Boleh tanya itu kepada IB Udiyana. Jadi, saya sudah pernah teruji sebagai caleg dan sebagai anggota Dewan. Penghargaan partai seperti itu sudah cukup,” tegas Rai Wiranata.

Rai Wiranata pun mengungkap tarung Pileg 2004 silam, ketika musim pencalegan justru Demer diuntungkan karena langsung ditempatkan di nomor urut 1 oleh Golkar sebagai caleg DPR RI Dapil Bali. Posisi itu didapat karena lobi-lobi Demer kepada elite partai yang dipimpin Ketua DPD I Golkar Bali (waktu itu) I Gusti Ngurah Alit Yudha.

Padahal, kata Rai Wiranata, Demer saat itu baru gabung di Golar. Padahal lagi, seharusnya saat iti Dewa Ngakan Rai Budiasa yang layak mendapat nomor urut 1 sebagai caleg DPR RI Dapil Bali. Sebab, Rai Budiasa adalah Ketua OKK DPD I Golkar Bali selama bertahun-tahun. Selain itu, Rai Budiasa juga sempat duduk di Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta.

Menurut Rai Wiranata, Rai Budiasa kader senior Golkar asal Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan, Gianyar---juga banyak berkorban untuk Golkar di Bali saat Partai Beringin sedang terpuruk di awal Reformasi periode 1999-2004. “Rai Budiasa saat itu banyak membiayai perjuangan partai. Boleh tanya Akbar Tandjung (mantan Ketua Umum DPP Golkar, Red),” kenang Rai Wiranata.

“Saat itu, Akbar Tandjung sudah mau pasang Rai Budiasa di nomor urut 1 caleg DPR RI Dapil Bali, bukannya Demer yang dapat hadiah sebagai caleg jadi. Sebab, Akbar Tandjung melihat dedikasi dan pengorbanan Rai Budiasa kepada partai. Tapi, Demer dengan lobi-lobinya dan permainan politiknya, berhasil menjegal Rai Budiasa yang akhirnya cuma dapat nomor urut 4,” imbuhnya.

Rai Wiranata menyebutkan, Rai Budiasa mendapat suara cukup signifikan dalam Pileg 2004. Kalau saja saat itu tarung bebas, bukan sistem nomor urut, Rai Budiasa yang harusnya menjadi anggota DPR RI Dapil Bali dari Golkar. “Tapi, justru Demer yang dapat nomor urut 1, padahal dia orang baru masuk Golkar,” beber mantan Wakil Ketua Komisi IV DPRD Bali ini.

Duduk di kepengurusan Partai Golkar, kata Rai Wiranata, bukan hanya untuk menjadi caleg. Banyak jalur-jalur yang bisa dipakai berjuang untuk kepentingan masyarakat. “Demer mengerti nggak organisasi?” tanya Rai Wiranata, yang sebulan lalu dilengserkan Demer dari jabatan Wakil Ketua Bidang Hubungan Antar Ormas DPD I Golkar Bali.

Rai Wiranata merasa dilecehkan oleh sikap Demer. Rai Wiranata pun bersumpah akan menabuh genderang perang dengan Demer di Pileg 2019. Mau debat di mana saja soal organisasi, dirinya siap. Rai Wiranata juga tidak akan mendukung Demer di Pileg 2019.

“Minimal keluarga besar saya di Kesiman tidak akan memilih Demer di Pileg 2019 nanti. Sekalian dah saya perang sama dia. Di mana saja saya siap berhadapan, di atas langit, di bawah tanah juga oke. Masih banyak kader Golkar yang layak kita dukung,” tantang Rai Wiranata.

Baca Juga: Putu Joni Winadi Dicoret Dari Caleg Golkar Tabanan, Ini Alasannya

Sementara itu, Wayan Subawa mengatakan menjadi kader Golkar dan duduk di kepengurusan partai bukan hanya untuk urusan berebut kursi kekuasaan dengan maju sebagai caleg. Dedikasi dan membesarkan partai itu, banyak caranya. “Saya sendiri sudah pernah mengangkat nama Partai Golkar ketika menjadi Calon Walikota Denpasar di Pilkada 2010,” ujar Subawa kepada NusaBali secara terpisah, Minggu kemarin.

Mantan Penjabat Bupati Badung 2005 dan Sekda Badung ini menegaskan, Demer salah alamat karena tuding dirinya bersama AA Ngurah Rai Wiranata dan I Gusti Putu Wijaya tidak membesarkan partai. “Pak Wijaya sudah menjadi anggota Fraksi Golkar DPR RI dua periode, menjadi anggota DPRD Bali satu periode,” tandas Subawa.

“Rekan saya Pak Wijaya itu memberikan kesempatan kepada yang lain. Saya juga sama prinsipnya, memberikan kesempatan kepada generasi muda,” tlanjut politisi asal Banjar Yangbatu, Desa Dangin Puri Kelod, Kecamatan Denpasar Timur yang dilengserkan Demer sebagai Wakil Ketua Bappilu Wilayah Denpasar DPD I Golkar Bali ini.

Dikonfirmasi NusaBali terpisah per telepon, Minggu kemarin, Demer enggan menanggapi statemen Rai Wiranata dan Subawa. “Tanya Pak Dewa Nida (anggota Korwil Bali DPP Golkar Dewa Made Widiyasa Nida, Red), kan beliau juga sebagai pengurus DPP Golkar. Saya masih simakrama, urusan masyarakat,” dalih Demer.

Sedangkan Dewa Nida mengatakan Rai Wiranata cs seharusnya menjaga kondusivitas partai . “Kalau direshuffle kepengurusan DPD I Golkar Bali, ya sudah ikuti proses partai. Kalau tidak puas, kan ada Mahkamah Partai Golkar,” sergah Dewa Nida.

Dewa Nida mengingatkan Rai Wiranata agar membantu kader Golkar yang maju tarung ke Pileg 2019, bukan malah membuat persoalan meruncing. Apalagi, sampai mengajak orang tidak memilih kader sendiri.

“Kalau begini caranya, suara Golkar bakal merosot. Suara Capres-Cawapres yang diusung Golkar yakni Jokowi-Ma’ruf Amin bisa merosot. Harusnya sebagai kader senior dan orang tua, ya bawa kondisi ini adem dan teduh. Saya menyayangkan caranya membuat situasi jadi runyam begini,” sesal politisi Golkar asal Desa Akah, Kecamatan Klungkung yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Klungkung ini. [nusabali]

fokus berita : #Demer


Kategori Berita Golkar Lainnya