05 Maret 2019

Berita Golkar - Mangkraknya dua mesin penyulingan air laut bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) senilai Rp4,6 miliar di daerah Gili Gede Kecamatan Sekotong mengundang kekecewaan Wakil Bupati Lombok Barat (Lobar) terpilih, Hj. Sumiatun. Ketua DPD II Golkar Lobar ini mengaku sangat kecewa dengan mangkraknya dua mesin penyuling air laut tersebut, pasalnya akibat tak berfungsinya mesin penyulingan air ini mengakibatkan 1.000 jiwa lebih masyarakat di desa itu tak bisa terlayani air bersih.

“Seingat saya, pada saat saya menjabat Ketua DPRD bersama Bapak Bupati dan kepala dinas saat itu pernah ada bantuan mesin penyulingan air laut menjadi air tawar. Namun yang jadi kendala, sampai saat ini mesin itu belum bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” akunya akhir pekan kemarin.

Baca Juga: Sejahterakan Masyarakat, Purwaningsih Siap Kembangkan Potensi Wisata Lombok

Menurutnya, bantuan ini mangkraknya akibat kendala teknis dan kurang bertanggungjawabnya masyarakat dalam menjaga dan memelihara bantuan tersebut. Ia sangat mengharapkan masyarakat khususnya wilayah selatan agar apa yang dibantu pemerintah bisa dipertanggungjawabkan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Saat menjabat Ketua DPRD, ia sering turun langsung ke masyarakat memberikan bantuan. Namun bantuan yang diberikan itu justru terkadang dijual. Salah satu contoh, kata dia, bantuan sampan dan traktor, namun terkadang dipihak ketigakan (dijual). Ia pun berpesan ketika menyerahkan bantuan agar bantuan yang diberikan jangan dijual. “Kami sering berikan sampan, traktor kadang-kadang dipihakketigakan (dijual, red). Ini yang sangat saya sesalkan. Mohon maaf ini, bukan membela diri atau pemda. Namun saya ingin membangun dan memberdayakan daerah kita,” tegas dia.

Di gili Gede juga kata dia, ada kelompok pemuda yang dibantu program pemeliharaan karang. Hal ini disampaikan kata dia, bukan berarti dirinya tak mendukung atau memperhatikan masyarakat. Justru, kata dia, hal ini menjadi dasar dirinya ke depan untuk membantu dan memperhatikan masyarakat setempat. Hanya saja menurut dia, bagaimana membangun daerah manakala masyarakat sendiri tidak bisa mempertanggungjawabkan bantuan yang diberikan pemerintah.

Pihaknya berkomitmen memberdayakan masyarakat sesuai dengan ketentuan dan aturan yang ada. “Kita ada aturan, tidak bisa semena-mena untuk mengembangkan wilayah kita, tentu kita perlu koordinasikan. Saya dan Pak Bupati, Pak Gubernur dan Ibu Wagub, insya Allah akan selalu siap untuk masyarakat Lobar, ” jelas dia.

Warga Gili Gede, Abu Bakar mengeluhkan masyarakat Gili Gede sejak puluhan tahun mengeluhkan tidak adanya air bersih di daerah itu. “Sejak saya lahir sampai sekarang, masalahnya di Gili itu air bersih. Kalau mau dapat air harus beli ke darat (seberang),”keluh dia. Ia sangat berharap Pemda segera menyediakan akses air bersih bagi warga setempat.

Baca Juga: Pendampingan Buruh Migran Jadi Prioritas Sari Yuliati Saat Duduk di DPR

Bahkan kata dia, kalau pemda butuh lahan untuk menyambung air bersih warga setempat siap menyiapkan lahan. Asalkan, kata dia, pemda mau membantu masyarakat setempat. Menurut dia, air ini menjadi kendala utama sebab persoalan listrik sudah mampu setelah dibangunnya kabel bawah laut ke daerah itu.

Diketahui, dua mesin penyulingan air laut senilai masing-masing Rp 2,9 miliar lebih dan Rp1,7 miliar lebih bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Desa Gili Gede tahun 2012-2013 lalu mangkrak, penyebabnya alat pada mesin tersebut mengalami kerusakan. Rata-rata mesin itu hanya beroperasi dua bulan selebihnya setelah itu mesin itu tidak beroperasi. Pemda dalam hal ini yang diharapkan justru kurang mengontrol. [suarantb]

fokus berita : #Hj. Sumiatun


Kategori Berita Golkar Lainnya