27 Maret 2019

Berita Golkar - DPR memberi dukungan penuh ke Pemerintah atas rencana pemboikotan produk-produk Uni Eropa. DPR memandang, pemboikotan tersebut penting untuk memberi pelajaran ke Uni Eropa. Agar mereka tidak lagi diskriminatif ke Indonesia.

Rencana pemboikotan produk-produk Uni Eropa tersebut sebelumnya disampaikan Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan, Senin lalu. Rencana ini diambil sebagai bentuk perlawanan Pemerintah atas perlakuan diskriminasi yang dilakukan Eni Eropa terhadap minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia.

Baca Juga: Robert Kardinal Ajak Kader Golkar Teluk Bintuni Hindari Money Politics

Anggota Komisi IV DPR Robert J Kardinal menyatakan, rencana yang disampaikan Luhut adalah langkah tepat. Dia setuju langkah tersebut. Indonesia tidak perlu takut dengan Uni Eropa. Segala prilaku Uni Eropa yang melemahkan dan diskriminatif terhadap Indonesia harus dilawan.

“Sebagai negara berdaulat, kita tunjukkan bahwa Indonesia tidak bisa didikte negara mana pun. Kebijakan Pak Luhut harus kita dukung. Kita tidak perlu takut. Kita bisa hitung-hitungan (perang) dagang dengan mereka,” kata Bendahara Umum Partai Golkar ini, di Jakarta, kemarin.

Dalam hitung-hitungan Robert, pemboikotan terhadap produk-produk Uni Eropa tidak akan membuat Indonesia rugi. Banyak negara lain siap bekerja sama dan menjalin hubungan dagang Indonesia. Sebab, Indonesia merupakan pasar yang besar. Karena itu, Indonesia tidak perlu takut melawan prilaku diskriminatif Uni Eropa.

“Kali ini kita harus keras. Kita adalah pasar terbesar keempat di dunia dengan 265 juta penduduk. Masak kita dianggap remeh. Ayo, kita tunjukkan bahwa kita juga adalah negara besar,” tegasnya.

Salah satu negara Uni Eropa yang harus disegera diboikot, kata Robert, adalah Perancis. Sebab, selama ini Perancis paling getol menyuarakan penolakan terhadap minyak sawit Indonesia. Makanya, Indonesia juga harus menyetop menggunakan produk-produk Perancis. Perusahaan mereka yang ada di Indonesia juga harus segera diambil alih Pemerintah.

Baca Juga: Airlangga Hartarto Optimis Golkar Raih Kursi DPR Terbanyak di Pileg 2019

“Perancis itu banyak perusahaan di sini. Ada Total E&P, Alstom, BNP Paribas, dan juga Danone (makanan). Setop beli produk mereka. Silakan mereka berusaha di sini, tapi orang Indonesia akan bersatu boikot produk mereka. Setop beli peralatan fesyen mereka yang ada di mal-mal,” serunya.

Robert curiga dengan sikap Perancis yang selama ini paling nyaring menolak sawit Indonesia. Dia curiga kampanye hitam atas sawit Indonesia dimotori perusahaan-perusahaan migas dari Perancis. Perusahaan-perusahaan itu takut produk sawit Indonesia menjadi pesaing dalam industri bahan bakar di masa depan.

Kata Robert, langkah Perancis ini pernah dilakukan saat mempreteli pesawat terbang buatan Habibie di saat krisis moneter dulu. Saat itu, mereka menggunakan tangan International Monetary Fund (IMF) yang akan memberikan pinjaman ke Indonesia.

“Dulu, ketika IMF masuk ke Indonesia, itu kan ketuanya Michell Camdessus. Orang Prancis. Mereka menyuruh menutup industri pesawat terbang kita. Sebab, mereka takut pesawat kita jadi kompetitor. IMF waktu itu minta IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) tutup sampai akhirnya kita beli pesawat ATR buatan mereka yang sama persis dengan buatan dalam negeri kita. Coba kalau tidak tutup, mungkin pesawat ATR kita semua buatan dalam negeri. Saya curiga ini taktik yang sama. Makanya, harus kita dilawan,” tegasnya.

Politisi asal Papua Barat itu mengajak semua lapisan masyarakat, utamanya kalangan pengusaha, untuk bersama-sama bersatu melawan sikap diskrimatif Uni Eropa terhadap minyak sawit Indonesia. Apalagi, sikap diskriminatif itu merugikan petani. Jutaan petani yang menggantungkan nasib pada industri sawit Indonesia bakal terganggu.

Baca Juga: Robert Kardinal Serap Aspirasi Ratusan Masyarakat Kota Sorong

“Masalah sawit ini sudah menyangkut nasionalisme kita. Sikap diskriminatif terhadap sawit Indonesia harus dilawan. Indonesia harus angkat dada dan tunjukkan jatidiri sebagai negara berdaulat. Tidak boleh didikte negara mana pun. Ingat, China waktu perang dagang lawan Amerika Serikat, mereka serukan boikot produk AS. Akhirnya, McDonald tutup. Masak kita tidak bisa,” pungkasnya. [rmco]

fokus berita : #Robert Kardinal


Kategori Berita Golkar Lainnya