15 April 2019

Berita Golkar - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa penahanan mantan anggota Komisi VI DPR, Bowo Sidik Pangarso. Mantan Politikus Golkar tersebut diperpanjang masa tahanannya untuk 40 hari kedepan.

Selain Bowo, KPK juga memperpanjang masa penahanan dua tersangka kasus dugaan suap jasa angkut distribusi pupuk lainnya yakni, anak buah Bowo dari PT Inersia, Indung, dan Manager Marketing PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK), Asti Winasti.

Baca Juga: Kejahatan Luar Biasa, Maman Abdurrahman Tegaskan Korupsi Musuh Bersama

"Hari ini dilakukan ‎perpanjangan penahanan 40 hari dimulai tanggal 17 April 2019 sampai 26 Mei 2019 untuk tiga tersangka," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (15/4/2019).

Selain memperpanjang penahanan, KPK juga melakukan pemeriksaan tiga orang saksi untuk proses penyidikan Asti Winasti. Ketiganya yakni, Staf Finance dan Treasury PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK), Desi Artinesti, Direktur PT Kopindo Cipta Sejahtera, Bambang Tedjo Karjanto, serta seorang wanita cantik, Siesa Darubinta.

Febri mengatakan, pemeriksaan terhadap ketiga saksi untuk mendalami mekanisme kerjasama sewa kapal antara PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dengan PT Humpuss.

"Penyidik kali ini mendalami informasi mengenai mekanisme kerjasama sewa menyewa kapal antara PT PILOG dan PT Humpuss," terangnya.

Diketahui sebelumnya, KPK telah menetapkan tiga tersangka terkait kasus dugaan suap ‎kerjasama pengangkutan bidang pelayaran untuk kebutuhan distribusi pupuk menggunakan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

Tiga tersangka tersebut yakni, anggota Komisi VI DPR RI fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso, anak buah Bowo dari PT Inersia, Indung, serta Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti.

Dalam perkara ini, Bowo Sidik diduga meminta fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah USD2 per metric ton. Diduga, Bowo Sidik telah menerima tujuh kali hadiah atau suap dari PT Humpuss.

Bowo disinyalir menerima suap karena telah membantu PT Humpuss agar kapal-kapal milik PT Humpuss digunakan kembali oleh PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) untuk m‎engangkut pendistribusian pupuk. Sebab, kerjasama antara PT HTK dan PT PILOG telah berhenti.

Baca Juga: Dave Laksono Tegaskan Golkar Tak Pernah Perintah Caleg Lakukan Serangan Fajar

Bowo Sidik diduga‎ bukan hanya menerima suap dari PT Humpuss, tapi juga dari pengusaha lainnya. Total, uang suap dan gratifikasi yang diterima Bowo Sidik dari PT Humpuss maupun pihak lainnya yakni sekira Rp8 miliar. Uang tersebut dikumpulkan Bowo untuk melakukan serangan fajar di Pemilu 2019.

KPK sendiri telah menyita uang sebesar Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks. 82 kardus serta dua boks tersebut berisi uang pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu dengan total Rp8 miliar yang sudah dimasukkan kedalam amplop berwarna putih. [okezone]

fokus berita : #Bowo Sidik Pangarso


Kategori Berita Golkar Lainnya