24 April 2019

Berita Golkar - Meski berstatus tersangka dan ditahan di Rutan Polda Bali, mantan Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta masih mampu meraup banyak suara pada Pemilu Serentak 2019.

Dari perhitungan sementara internal Partai Golkar, Sudikerta meraih 22 ribu suara untuk kursi DPR RI Dapil Bali.

Hal tersebut diungkapkan Plt. Ketua DPD I Golkar Bali Gde Sumarjaya Linggih alias Demer di tengah-tengah tim IT Partai Golkar bekerja melakukan proses rekapan suara dari C1-KPU yang berlangsung di Sekretariat DPD Golkar Bali, Selasa (23/4).

Baca Juga: Potensi Kehilangan 1 Kursi DPR, Golkar Terkapar di Bali

Dijelaskan, Sudikerta meraup 22 ribu suara sementara Made Wijaya dari Klungkung merebut 20 ribu suara.

Namun Sudikerta yang menjadi tersangka kasus dugaan penipuan, penggelapan, dan TPPU dalam jual beli tanah di Jimbarana, Badung, dipastikan gagal melenggang ke Senayan.

Menurut klaim Demer, Golkar masih mempertahankan dua kursi untuk DPR RI.

Satu kursi sudah dipastikan milik Demer dengan perolehan suara tertinggi sekitar 100 ribu lebih.

Sedang satu kursi lainnya masih diperebutkan dua caleg Golkar lainnya.

“Golkar sudah pasti dapat pembagian dua kursi dari hasil pembagian ketiga dan pembagian kursi yang ketujuh. Untuk kursi yang pertama jelas ke saya karena suara terbesar dan sudah terkumpul 100 ribu lebih suara dari hasil rekapan baru mencapai 80 persen. Untuk kursi kedua yang diraih partai Golkar masih sedang bersaing antara Wayan Geredeg dan AA Bagus Adhi Mahendra,” jelas Demer.

Sementara itu, kursi Golkar di DPRD Bali dipastikan akan berkurang melihat hasil Pemilu 17 April 2019 dibandingkan dengan perolehan hasil Pemilu 2014.

Pada Pemilu 2014 Golkar memperoleh 11 kursi minus Kabupaten Klungkung, sedang di Pemilu 2019 satu kursi dari daerah pemilihan Gianyar hilang direbut oleh partai lain.

Demikian juga dengan Klungkung yang sebelumnya nihil, dan pada Pemilu 2019 masih dalam proses penghitungan suara.

Melihat perolehan hasil rekapan form C-1 KPU yang baru mencapai 80 persen, diperkirakan 10 kursi dari sembilan kabupaten/kota untuk DPRD Bali sudah aman.

Menurut Demer beberapa penyebab turunnya suara Golkar dan perolehan jumlah kursi di DPRD Bali tidak terlepas dari beberapa hal.

Di antaranya, Golkar di Bali sama sekali tidak memiliki bupati maupun wakil bupati.

Tak kalah pentingnya, gonjang-ganjing terjadi di internal partai beringin pasca penunjukan Plt oleh Golkar pusat.

“Kita tidak punya bupati seperti Pemilu tahun 2009-2014. Saat itu ada Bupati Badung, ada Bupati Karangasem dan Bupati Gianyar. Kalau Pemilu 2019, Golkar sama sekali tidak memiliki bupati dan wakil bupati, itu juga menjadi faktor turunnya suara partai Golkar merebut kursi di DPRD Bali,” ujarnya.

Demer menjelaskan, kursi yang bisa dipertahankan oleh partai Golkar dari hitungan sementara yakni Dapil Denpasar tetap 2 kursi, Badung menurun dari 2 kursi menjadi 1 kursi, Tabanan bertahan 1 kursi, Jembrana tetap 1 kursi, dan Buleleng tetap bertahan dengan 2 kursi.

Sementara di Bangli tetap 1 kursi, Gianyar nihil alias lenyap, dan Karangasem juga masih bertahan satu kursi.

“Dapil Klungkung masih proses dan diyakini ada peluang bisa merebut satu kursi,” jelasnya.

Dalam hitungan sementara Golkar meraih 198 ribu lebih suara.

Seperti yang diprediksi dengan hitungan rekapan suara yang baru 80 persen, Golkar masih memastikan ada peluang penambahan suara hingga tercapai 230 ribu suara.

Baca Juga: Konflik Internal dan Kasus Sudikerta Picu Anjloknya Suara Golkar Bali

“Saya prediksi Partai Golkar bisa mencapai 230 ribu suara untuk Pemilu 2019,” pungkasnya. (*)

Perkiraan Caleg Partai Golkar ke DPRD Bali

1. Ketut Suwandhi (Denpasar)

2. IB Gde Udiyana (Denpasar)

3. I Wayan Rawan Atmaja (Badung)

4. Nyoman Wirya (Tabanan)

5. Made Suardana (Jembrana)

6. IGK Kresna Budi (Buleleng)

7. Nyoman Sugawa Korry (Buleleng)

8. Wayan Gunawan (Bangli)

9. Ni Putu Yuli Artini (Karangasem)

10. Klungkung masih dalam perebutan

 [tribunnews]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya