25 April 2019

Berita Golkar - Banten lebih dikenal dengan daerah jawara, debus, hingga pariwisatanya. Namun siapa sangka, Banten punya potensi kopi jenis robusta dan arabika yang tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia.

Untuk mempromosikan kopi asal tanah jawara tersebut, untuk pertama kali digelar Festival Kopi Banten dengan tema ‘Banten Punya Kopi’ di Pendopo Bupati Serang, Rabu (24/4).

Baca Juga: Wihaji, Ratu Tatu dan Taufan Raih Penghargaan Indonesia Visionary Leader

Sejumlah komunitas barista hadir dan digelar berbagai kegiatan, mulai dari diskusi tentang kopi, melukis dengan bahan baku kopi, hingga memanjakan pengunjung dengan menggratiskan sekira 1.000 gelas kopi.

Turut hadir, mantan Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid, Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa, dan komunitas kopi di Banten.

“Kalau kopi ini dikelola dari hilir, saya rasa menjadi nilai tambah bagi masyarakat, juga menjawab persoalan tenaga kerja. Bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Dan Banten, bisa menjadi salah satu produsen kopi terbaik di Indonesia,” kata Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah kepada wartawan.

Tatu mengungkapkan, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Serang, beberapa tanaman perkebunan rakyat di Kabupaten Serang masih mempunyai lahan yang luas di atas 1.000 hektare. Komoditas perkebunan paling besar antara lain kelapa, kopi, cengkeh, dan kakao.

Sementara berdasarkan catatan Dinas Pertanian Kabupaten Serang, luas lahan perkebunan kopi di Kabupaten Serang sekarang ada 1.864 hektare dengan produksi per semester 551,23 ton dan produktivitas 270,42 kilogram per hektare.

Wanita yang menjabat sebagai Ketua DPD partai Golkar juga menyampaikan, di Kabupaten Serang punya perkebunan kopi rakyat di Kecamatan Cinangka, yang berdekatan dengan objek wisata pantai.

“Saya mengapresiasi Festival Kopi Banten yang pertama kali dilaksanakan. Harus digelar rutin agar terus menumbuhkan kecintaan akan kopi yang baik untuk kesehatan. Tentu bisa meningkatkan perekonomian masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, supaya Kabupaten Serang bisa seperti di Nagroe Aceh Darusallam (NAD), di mana setiap sudut para masyarakat selalu berkumpul. “Dan tidak bisa dipungkiri, banyak ide-ide bagus yang lahir dari kedai kopi bukan dari acara resmi,” bebernya.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus M Tauchid menyampaikan, luas lahan pertanian sektor kopi di Provinsi Banten seluas 6.468 hektare. Tingkat produksinya per tahun masih rendah yakni 2.428 hektare. “Komoditas kopi di Banten sangat luar biasa, kedai kopi sudah banyak bermunculan, itu menandakan tingkat perekonomian yang meningkat,” jelasnya.

Sementara Anton Apriyantono yang juga menjabat sebagai Dewan Kopi Indonesia menuturkan, ternyata kopi di Kabupaten Serang tak kalah enak. “Tadi saya coba beberapa mas. Rasanya punya ciri khas sendiri. Luar biasa, coba segera disampaikan agar bisa diklasifikasi, supaya punya hak paten,” ucapnya.

Baca Juga: Prioritas Bangun Infrastruktur, Ratu Tatu Chasanah Moratorium Pembelian Mobil Dinas

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Kopi Banten 2019 Wajid Nuad menjelaskan, potensi kopi di Banten sangat banyak terutama di daerah tinggi. Saat ini paling diunggulkan di Pandeglang, Kabupaten Serang dan Lebak.

“Kita harus menyentuh berbagai sisi untuk mengembangkan kopi di Banten, terutama memberikan edukasi kepada petani. Selain itu memperluas perkebunan dan juga menanam serta mengolah kopi yang baik,” jelasnya.

Kata dia, tujuan diselenggarakannya acara ini untuk mengenalkan bahwa di Banten juga ada kopi. “Jangankan masyarakat umum, orang Banten sendiri belum tentu mengetahuinya. Semoga acara ini bisa diselenggarakan setiap tahun,” terangnya. [tangselpos]

fokus berita : #Ratu Tatu Chasanah


Kategori Berita Golkar Lainnya