09 Mei 2019

Berita Golkar - Wakil Presiden RI Jusuf Kalla atau JK ikut buka suara tentang mahalnya harga tiket pesawat. Menurutnya, harga tiket pesawat sangat diharapkan bisa turun, namun jika terlalu murah akan membuat maskapai bangkrut.

Dia mencontohkan, ada sejumlah maskapai yang gulung tikar, akibat harga tiketnya terlalu murah. Menurut hitungan JK, dalam kurun 20 tahun sudah ada beberapa maskapai yang bangkrut akibat menjual tiket penerbangan terlalu murah.

Baca Juga: Jusuf Kalla Ungkap Kunci Kemakmuran Adalah Penguasaan Teknologi

"Dalam waktu kurang lebih 20 tahun ada sekitar 10 perusahaan penerbangan tumbang (bangkrut). Mandala, Batavia, Adam Air, Indonesia Air, (hingga) Merpati. Hampir 10 itu, semua tidak kuat," kata JK di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (7/5).

Selain maskapai-maskapai tersebut, dalam catatan kumparan ada sejumlah maskapai lainnya yang gulung tikar yakni Sempati, Bouraq, Linus (Lintas Nusantara), Jatayu Airlines dan Kartika Airlines. Tapi sebagian maskapai itu sudah menyetop usaha lebih dari 20 tahun silam.

Tiket Mahal Karena 70 Persen Komponen Pakai Dolar AS

JK pun membeberkan salah satu mahalnya harga tiket pesawat. Dia menilai hal ini terjadi akibat biaya operasional yang bergantung pada kurs dolar AS.

"Tarif ini 70 persen komponennya komponen impor yang memakai dolar, pesawat, sewa, sparepart-nya, komponen lainnya. Sekarang akibat persaingan ketat tinggal 2, grup Garuda dan grup Lion," ucapnya.

JK mengatakan, banyak maskapai kecil yang gulung tikar akibat persaingan maskapai yang begitu besar. Saat ini hanya ada 2 grup maskapai yang beroperasi yakni Garuda Indonesia dan Lion Air Group.

Ia yakin maskapai pasti akan berhati-hati dalam menerapkan tarif penerbangan. Sebab jika tiket pesawat terlalu mahal tak ada penumpang yang naik, sebaliknya jika terlalu murah, maka maskapai terancam bangkrut.

Tiket Pesawat Mahal, AP I Kehilangan 3,5 Juta Penumpang

Mahalnya tiket pesawat pun berdampak pada penurunan jumlah penumpang di bandara. PT Angkasa Pura I (Persero) (AP I) mencatat, jumlah penumpang di 13 bandara yang dikelola perseroan pada triwulan I 2019 turun 3,5 juta orang. Di akhir 2018, jumlah penumpang di bandara milik AP I mencapai 95 juta orang.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan Angkasa Pura I Devi Suradji menyampaikan, salah satu alasan hal tersebut terjadi yakni karena tiket pesawat yang mahal. Hal itu berdampak langsung pada jumlah penumpang.

"Seluruh bandara, 13 airport (penumpang) turun sekitar 3,5 juta. Hitungan saya adalah dari penumpang yang berangkat yang berbayar," ujarnya saat ditemui di Bandar Udara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo, Senin (6/5).

Petisi Turunkan Tiket Pesawat Kembali Ramai

Meski JK mendukung harga tiket agar turun tak terlalu murah, di jagat maya, ajakan untuk mengisi petisi agar tiket pesawat turun kembali ramai. Melalui situs petisi online change.org, beberapa ajakan itu muncul dan sudah banyak ditandatangani.

Misalnya pada petisi "Turunkan Harga Tiket Pesawat Domestik" yang dibuat Iskandar Zulkarnain beberapa bulan lalu, kembali ramai ditandatangani. Hingga pukul 4.26 WIB, petisi tersebut sudah ditandatangi sebanyak 1.059.869 dari target 1 juta tanda tangan.

Baca Juga: Jusuf Kalla Ajak Masyarakat Bersihkan Masjid Dari Radikalisme

Ada juga seruan "Turunkan Harga Tiket Pesawat ke Papua" yang sudah ditandatangi sebanyak 58 ribu dari target 75 ribu tanda tangan.

Tak hanya itu, tagar #PecatBudiKarya pun ramai di Twitter sejak kemarin dengan seruan agar Presiden Joko Widodo memecat Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Tagar ini bahkan sempat beberapa waktu menjadi trending topic. [kumparan]

fokus berita : #Jusuf Kalla


Kategori Berita Golkar Lainnya