21 Mei 2019

Berita Golkar - Ketua Dewan Pertimbangan DPD II Golkar Denpasar ini meninggal di usianya yang ke 73 tahun setelah dirawat di RSUD Wangaya, karena gejala stroke pada 20 April 2019 lalu.

Wayan Siana diketahui sakit sejak 10 April 2019 lalu dengan kondisi lemas, seperti tanda-tanda stroke. Almarhum juga sempat bolak-balik dirawat di rumah sakit hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Almarhum diaben pada, Redite Wage Landep, Minggu (19/5) di Setra Banjar Kangin Panjer, Denpasar.

Baca Juga: Musda Golkar Bali, Dukungan Mengalir Untuk Cok Ibah dan Wayan Gredeg

Wayan Siana diketahui merupakan sosok yang berpengaruh di Golkar Denpasar. Maklum, almarhum adalah kader Golkar sejak awal terbentuknya partai ini di Kota Denpasar di era reformasi.

"Keluarga besar DPD II Golkar Denpasar sangat berbela sungkawa, dengan meninggalnya Ketua Dewan Pertimbangan kami. Beliau merupakan sosok yang konsisten, selama ini tidak pernah bergeser dari baru bangkitnya Golkar sampai saat ini, secara pribadi sangat salut dengan militansi sosok beliau. Sejak Pemilu di era reformasi, beliau juga beberapa kali maju sebagai caleg, namun tak lolos," ujarnya Ketua DPD II Golkar Denpasar, I Wayan Mariyana Wandhira saat dikonfirmasi, Senin (20/5).

Jajaran DPD II Golkar Denpasar sebelumnya juga melayat ke rumah duka almarhum Drs I Wayan Siana, di Jalan Tukad Pakerisan Nomor 70, Banjar Kangin, Kelurahan Panjer, Denpasar Selatan, beberapa hari lalu.

Wandhira mengatakan, Wayan Siana merupakan sosok yang selalu mengajarkan kadernya untuk memiliki rasa gotong-royong dan mencintai partai. Bagi Siana, seluruh anggota partai merupakan keluarga. Jika salah satu mendapatkan masalah, maka harus ditanggung bersama sebagai jaringan partai.

Dikatakan Wandhira, Wayan Siana menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan DPD II Golkar Denpasar pada periode 2009-2016 dan 2016-2021. Figur yang sangat disegani ini juga menurun ke anak-anaknya yang memiliki loyalitas tinggi kendati ayahnya selalu gagal dalam pencalonannya.

"Beliau merupakan sosok penuh perjuangan, kendati tidak pernah merasakan manisnya duduk di kursi dewan," jelas Wandhira. Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar ini juga menjelaskan, almarhum Wayan Siana tak lagi maju sebagai caleg dan mendorong anak keduanya maju sebagai caleg di Pileg 2009. Namun, keberuntungan juga belum berpihak pada keluarga Wayan Siana. Lalu pada Pileg 2014, Siana memajukan anak bungsunya, I Ketut Gede Manik SH sebagai caleg, tapi juga gagal. Bahkan, almarhum tidak henti-hentinya untuk berjuang agar anaknya bisa terpilih.

Di Pileg 2019, Ketut Gede Manik kembali maju nyaleg dari Dapil Denpasar Selatan, namun harapannya juga belum terwujud. "Saya akui memang perjuangan mereka. Manik sudah berusaha, padahal saat pemilu dia juga sedang sakit radang ginjal. Jadi keduanya sakit, mereka masih tetap kuat. Kalau kita yang normal saja sudah goyah, tapi mereka tetap kuat. Itu yang mengajarkan kami. Bahkan, almarhum juga meninggalkan buku yang belum beredar terkait dengan perjalanan DPD II Golkar Denpasar," imbuhnya.

Wandhira berharap, anak Wayan Siana bisa tetap loyal dengan partai seperti apa yang dilakukan ayahnya selama ini. Almarhum meninggalkan seorang istri dan 4 orang anak. Tiga diantaranya perempuan dan seorang anak laki-laki. "Kami saat melayat berpesan agar selalu meniru apa yang ditinggalkan ayahnya," tandas Wandhira. [nusabali]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya