21 Mei 2019

Berita Golkar - Kegagalan Partai Golongan Karya (Golkar) mencapai target kursi di Pemilu Legislatif 2019 membuat anggotanya meradang. Tuntutan agar Ketua Umum Airlangga Hartarto dan Sekjen Lodewijk Freidrich Paulus bertanggung jawab dan mundur dari jabatannya, mengemuka.

Mantan Ketua Badan Pemenangan Pemilu Golkar Wilayah Timur Azis Samual menegaskan, tak seharusnya Golkar hanya meraih 85 kursi. "Target di awal, Golkar harus mencapai 110 kursi di DPR RI. Tapi ini jauh, kami juga hanya duduk di posisi ketiga, ini tak  semestinya terjadi, artinya Airlangga sebagai Ketua Umum gagal, sudah sepatutnya bertanggung jawab, dan harus mundur," katanya, Selasa (21/5).

Baca juga: Golkar Butuh Sosok Petarung Seperti Akbar Tandjung Untuk Jadi Ketua Umum

Sekjen Lodewijk juga dinilai tak cakap, Ketum dan Sekjen yang harusnya bisa membawa partai ke tujuan, ternyata harus rusak di tengah jalan, akibatnya partai bobrok dan suaranya jauh dari harapan. Pria yang pernah menjadi Plt Ketua DPD I Golkar Papua tersebut mengajak kepada DPD I dan DPD II Golkar di seluruh Indonesia bergerak. Tujuannya, meminta Munas Golkar dipercepat karena marwah partai yang besar ini sudah dipermalukan Ketua Umum.

"Golkar harus segera bangkit dan berbenah, karena ini partai sangat terpuruk di bawah nakhoda Ketum dan Sekjen sekarang. Bahkan anggota kami di bawah, minta Munas dipercepat, selambat-lambatnya akhir Juli," ucap dia. Sesuai hasil rekapitulasi Pemilu 2019 Partai Golkar hanya ada di posisi ketiga dengan raupan 12,31 persen atau setara 17.229.789 suara.

Baca juga: Suara Merosot, AMPI Kota Bekasi Nilai Musibah Bagi Golkar Di Bawah Airlangga

"Targetnya 18 persen, ini malah berkurang dan jauh dari target. Sudah jelas gagal total Airlangga dan Sekjennya," tandasnya. Airlangga sendiri awalnya optimistis Golkar bakal bisa menempel dan bersaing dengan PDIP berebut juara Pileg. Apa daya, Golkar di bawah nakhodanya ternyata bersaing dengan Gerindra saja kesulitan sehingga tak bisa menjadi runner up Pileg 2019.

Jangankan menyamai capaian pada 2014 lalu, mengejar capaian hasil survey saat Setya Novanto memimpin yang diprediksi dapat 16 persen, nyatanya tak mampu dan hanya dapat 12,31 persen. Jumlah kursi yang didapatkan pada 2014 lalu mencapai 91 kursi.

Namun, pada 2019 jumlah total kursi keseluruhan bertambah dari 560 menjadi 575, Golkar hanya dapat 85. "Logikanya harus bertambah, jumlah kursi nasional saja nambah, ini malah turun. Ketua Umum tak mampu ini artinya," tegas dia. [jpnn]

fokus berita : #Azis Samual


Kategori Berita Golkar Lainnya