13 Juni 2019

Berita Golkar - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Sumsel, resmi mengajukan gugatan hasil Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 di Sumsel, untuk beberapa tingkatan.

"PDI Perjuangan Sumsel ada 3 gugatan hasil Pileg di Sumsel, baik tingkat DPR RI, Provinsi maupun Kabupaten," kata Ketua DPD PDI Perjuangan Sumsel, Giri Ramanda, Rabu (13/6/2019)

Ia mengatakan, beberapa hasil pileg yang digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut, yaitu ditingkat DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumsel I yang meliputi kota Palembang, Banyuasin, Muba, Mura, Muratara dan Lubuklinggau, yang diduga ada pengurangan suara caleg PDI Perjuangan.

Kemudian untuk tingkat DPRD Sumsel dari dapil IX (Muba), dengan dugaaan adanya penggelembungan suara oleh partai tertentu (Golkar), dan pengurangan suara partai PDI Perjuangan (caleg atas nama Uzer Effendi).

"Serta ditingkat DPRD Kabupaten Muba untuk Dapil IX, dengan dugaan hampir sama, yaitu partai lain menggelembungkan suara dan suara PDI Perjuangan berkurang, sehingga PDI Perjuangan kehilangan kursi di Dapil itu," tandasnya.

Ditambahkan mantan ketua DPRD Sumsel ini, dari 3 gugatan itu yang paling getol mereka perjuangkan yaitu untuk kursi DPRD Sumsel dapil IX.

Sebab jika MK memenangkan gugatan tersebut, PDI Perjuangan bisa menyalip partai Golkar dan nantinya akan meraih kursi ketua DPRD Sumsel untuk periode 2019- 2024 dengan kursi sama- sama 12 (meski saat ini Golkar 13, PDI Perjuangan 11).

"Bukti sudah di pusat, ketiga itu dianggap memenuhi unsur, atas dugaan penggelembungan dan pengurangan suara," tegas Giri optimis.

Dimana berdasarkan hasil rekap hasil Pileg 2019 oleh KPU Sumsel, PDI Perjuangan meraih suara tertinggi berhasil meraih suara terbanyak sebesar 594.762 suara atau 11 kursi di DPRD Sumsel periode 2019-2024, dibanding 15 parpol peserta pemilu lainnya.

Meski begitu, PDI Perjuangan harus merelakan kursi ketua DPRD Sumsel kepada partai Golkar yang hanya meraih 573.750 suara, namun meraih kursi lebih banyak di DPRD Sumsel periode 2019-2024, sebanyak 13 kursi.

Kemudian disusul partai Gerindra sebesar 535.564 suara (10 kursi), Demokrat 467.955 suara (9 kursi), PKB 376.105 suara (8 kursi), Nasdem 348.015 suara (6 kursi), PAN 335.889 suara (5 kursi)

PKS 304.506 suara (6 kursi), Hanura 273.153 suara (3 kursi), Perindo 171.711 suara (3 kursi) dan PPP meraih 154.458 suara (1 kursi).

Sementara parpol non kursi di DPRD Sumsel yaitu partai Berkarya meraih 111.783 suara, PBB sebanyak 99. 890 suara, PSI 47.548 suara, Garuda 23.196 suara dan PKPI hanya meraih 14.598 suara.

Giri Ramanda menyatakan, pihaknya tak memungkiri jika pihaknya merasa dirugikan dengan metode Saint League Murni yang mulai digunakan pada Pemilu 2019 ini, mengingat suara yang didapat hanya gemuk dibeberapa dapil (daerah pemilihan).

"Kita tetap berterima kasih kepada masyarakat Sumsel, yang masih memikih PDI Perjuangan. Dimana dari sekitar 1,5 jutaan pemilih capres 01 (Jokowi- Amin) di Sumsel, 500 ribuan suara masih ke PDI Perjuangan," cap Giri Ramanda.

Dilanjutkan Giri, ada penurunan sekitar 500 ribuan suara, untuk capres Jokowi di Sumsel dibanding pilpres 2014 lalu.

Meski begitu, hal itu sudah dilakukan secara maksimal kader PDI Perjuangan dan tim koalisi untuk perolehan suara Jokowi- Amin tidak anjlok di Sumsel.

Ia menerangkan untuk kursi yang didapat PDI Perjuangan di Sumsel pada pemilu 2019, menurun dibanding 2014 lalu yang mencapai 13 kursi, dan pihaknya merasa pada pemilu 2019 ini Golkar sangat diuntungkan dengan metode Saint League Murni.

"Suara Golkar diuntungkan Saint League, sehingga mereka ada penambahan kursi dibeberapa dapil. Tapi kalau kalau masih pakai BPP (Bilangan Pembagi Pemilih), kita harusnya dapat kursi lebih banyak. Jadi ini tidak sesuai target kita untuk meraih kursi terbanyak," pungkasnya. [tribunnews]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya