18 Mei 2017

Berita Golkar - Paham kebangsaan mendapat tantangan keras dari masih kuatnya rasa kedaerahan, primordialisme, dan kesukuan. Fanatisme berbasis SARA yang memecah bangsa diharapkan akan lebih mudah digerus menggunakan sosialisasi humanis.

Wakil Ketua MPR Mahyudin mengatakan sosialisasi empat pilar yang dilakukan MPR merupakan langkah merespons tantangan kebangsaan. Meski begitu, ia mengakui sosialisasi masih menggunakan cara-cara lama.

"Sosialisasi, bikin outbond, ToT (training on trainer), cerdas cermat," ujar Mahyudin, Rabu 17 Mei 2017.

MPR perlu melakukan sosialisasi empat pilar dengan terobosan baru. Apalagi, di era digital, sosialisasi perlu dilakukan dengan pendekatan humanis.

"Sekarang kan trennya dunia semakin modern, anak muda mainnya di media sosial, tentu MPR juga harus melakukan terobosan-terobosan untuk masuk lebih masif di medsos. Untuk itu, perlu dibentuk tim yang memang menangani sosialisasi yang lebih human, lebih dekat kepada kehidupan generasi muda kita," tutur Mahyudin.

Mahyudin mengatakan tantangan sosialisasi empat pilar kebangsaan yang meliputi Pancasila, UUD '45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, tidak saja menghadapi tantangan dari internal, tetapi juga eksternal. Arus globalisasi memudahkan masuknya paham-paham anti-Pancasila.

Ia mencontohkan paham yang dianut organisasi kemasyarakatan (ormas) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang akan dibubarkan pemerintah.

"Pengaruh globalisasi itu juga lebih cepat bergeraknya daripada kemampuan kita menyosialisasikan Pancasila itu sendiri," ungkap Mahyudin.

Kesetiaan masyarakat terhadap Pancasila dan NKRI, menurut Mahyudin, tidak bisa dibilang rendah. Hanya memang butuh penguatan, di antaranya melalui sosialisasi empat pilar.

Mahyudin mengakui sosialisasi empat pilar belum berdaya maksimal. Pasalnya, jumlah anggota MPR yang berjumlah 692 orang tidak bisa menjangkau keseluruhan lapisan masyarakat. Di situ terobosan dengan memakai saluran digital diperlukan.[metrotvnews]

fokus berita : # Mahyudin


Kategori Berita Golkar Lainnya